Jumat, 17 April 2009

Berbagi Berita dari tetangga

Posted by: "Doan Olala" dtaralia@yahoo. com dtaralia Thu Jun 5, 2008 8:54 pm (PDT) Lima Perkara Tolak Ahmadiyah

Hb Muhammad Rizieq Syihab Lc MA
Ketua Umum Front Pembela Islam/Ketua Rabithoh `Alawiyah dan Anggota
Majelis A'la Dewan Imamah Nusantara serta Kandidat Doktor Bidang
Syariah di Universiti Malaya.

Membaca tulisan Shamsir Ali di Republika, Jumat (23/5), yang berjudul
Ahmadiyah Menjawab, saya memandang perlu menanggapinya karena penuh
dengan penipuan dan penyesatan. Shamsir hanya mengemukakan sejumlah
persamaan antara Ahmadiyah dan Islam sambil menyembunyikan segudang
perbedaan keduanya.

Lalu, dia mengambil kesimpulan Ahmadiyah sama dengan Islam. Padahal,
antara Ahmadiyah dan Islam tidak berarti bahwa Ahmadiyah itu sama
dengan Islam, sebagaimana banyaknya persamaan antara monyet dan
manusia tidak berarti monyet itu sama dengan manusia.

Saya akan menyoroti tulisan Shamsir terkait lima persoalan. Pertama,
soal kenabian. Ahmadiyah memang mengakui Muhammad SAW nabi dan rasul,
tapi Ahmadiyah tidak mengakuinya sebagai penutup para nabi. Ahmadiyah
mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Khaatamun Nabiyyiin, tetapi dengan
makna stempel para nabi atau semulia-mulianya para nabi, bukan dengan
arti penutup para nabi. Kalaupun Ahmadiyah terkadang menerima
Muhammad sebagai penutup para nabi, dibatasi hanya nabi yang membawa
syariat yang ditutup, sedang nabi yang tidak bawa syariat tetap ada
sampai akhir zaman.

Dalam kitab Tadzkirah hal 493 baris 14 tertulis bahwa Mirza Ghulam
Ahmad (MGA) dijadikan sebagai rasul dan di hal 651 baris ketiga
tertulis bahwa Allah memanggil MGA dengan panggilan Yaa Nabiyyallaah
(Wahai Nabi Allah). Shamsir Ali pura-pura memuji Nabi Muhammad SAW
sebagai nabi yang istimewa dan termulia, padahal dalam kitab
Tadzkirah hal 192, 368, 373, 496, dan 579 disebutkan bahwa MGA
makhluk terbaik di alam semesta yang mendapat karunia Allah yang
tidak pernah didapat oleh selainnya.

Shamsir juga menyatakan MGA Al-Masih. Padahal, dalam Tadzkirah
disebutkan MGA bukan hanya Al-Masih, tapi MGA adalah Al-Masih putra
Maryam ( Hal 192, 219, 222, 223, 243, 280, 378, 380, 387, 401, 496,
579, 622, 637, dan 639). Di sini Shamsir Ali berusaha menyembunyikan
keanehan akidahnya.

Dalam kitab Tadzkirah hal 412 baris kedua dan hal 436 baris 2-3
tertulis bahwa MGA disamakan dengan anak Allah dan di hal 636 baris
13 disamakan pula dengan 'Arsy. Tadzkirah menyebutkan kedudukan MGA
sama dengan ketauhidan dan keesaan Allah (hal 15, 196, 223, 246, 368,
276, 381, 395, 496, 579, 636). Lalu MGA menyatu dengan Allah dan
menjadi Allah, lalu MGA yang menciptakan langit dan bumi (hal 195-
197, 696 dan 700). Di hal 51 baris 4 tertulis firman Allah kepada MGA
Yaa Ahmad yatimmu ismuka wa laa yatimmu ismii (Hai Ahmad, sempurna
namamu, dan tidak sempurna nama-Ku). Lihat juga di hal 245, 277, dan
366.

Kedua, soal Kitab Suci. Ahmadiyah memang mengakui Alquran Kitab Suci
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tapi Ahmadiyah tidak
mengakuinya sebagai Kitab Suci terakhir. Kalaupun Ahmadiyah mengakui
Alquran sebagai Kitab Suci terakhir, dibatasi hanya sebagai wahyu
syariat yang terakhir, sedang wahyu nonsyariat tetap ada sampai akhir
zaman.

Menurut Ahmadiyah, kitab Tadzkirah kumpulan wahyu suci dari Allah SWT
kepada MGA yang kedudukannya sama dengan Kitab Suci. Shamsir Ali
boleh mengelak tentang penisbahan penulisan Tadzkirah kepada MGA,
tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa isi kandungan Tadzkirah berasal
dari MGA.

Isi Tadzkirah menurut Ahmadyah kumpulan wahyu Allah SWT kepada MGA.
Dia juga tidak bisa mengelak bahwa yang tulis, cetak, perbanyak, dan
sebarluaskan Tadzkirah ke seluruh dunia adalah Ahmadiyah sendiri.
Dalam 12 poin komitmen Ahmadiyah, Departemen Agama tertanggal 14
Januari 2008 dinyatakan Tadzkirah catatan pengalaman rohani MGA.

Pada awal kitab Tadzkirah tertulis bahwa Tadzkirah adalah Wahyun
Muqoddas (wahyu yang suci). Di hal 43 baris 8, tertulis ucapan MGA
Khoothobani Robbii wa Qoola (Tuhanku bicara langsung kepadaku dan
berfirman). Di Hal 278, 369, 376, dan 637 tertulis Allah menurunkan
Tadzkirah di sekitar Qodiyan. Di hal 668 baris 12 tertulis MGA sama
dengan Alquran dan dia akan mendapatkan Al-Furqon.

Bagaimana bisa disamakan antara Islam yang beriman bahwa Muhammad
penutup para nabi dan Alquran Kitab Suci terakhir dengan Ahmadiyah
yang beriman bahwa setelah Muhammad ada nabi baru bernama MGA, dan
bahwa setelah Alquran ada kitab suci baru bernama Tadzkirah yang
diturunkan kepada MGA di Qodiyan, India?

Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam yang berakidah lurus dan
benar dengan akidah aneh Ahmadiyah yang meyakini MGA makhluk yang
termulia, dan namanya lebih sempurna dari nama Allah serta MGA sama
dengan 'Arsy dan anak Allah. Bahkan, menyatu dengan Allah dan jadi
Allah? Ini persoalan ushuluddin yang sangat prinsip dan mendasar.

Ketiga, soal Ahmadiyah antek kolonialisme, bukan fitnah, tapi MGA
sendiri yang mengaku. Dalam kitab Ruhani Khazain yang merupakan
kumpulan karya MGA, Vol 3 Hal 21, MGA menyatakan kesediaan berkorban
nyawa dan darah bagi Inggris yang saat itu menjajah India. Di hal 166
pada volume yang sama, MGA mewajibkan berterima kasih kepada Inggris
yang diakui sebagai pemerintah yang diberkahi. Di volume 8 Hal 36,
MGA mengaku sebagai pelayan setia Inggris, lihat juga di volume 15
Hal 155 dan 156. Puncaknya di volume 16 hal 26 dan vol 17 hal 443,
MGA menghapuskan hukum jihad.

Pada 1857 tatkala terjadi pemberontakan besar yang dilakukan kaum
Muslimin India terhadap penjajah Inggris, ayah MGA yang bernama
Ghulam Murtaza (Murtadha) ikut pasukan Inggris untuk membantai kaum
Muslimin. MGA sendiri yang cerita dalam kitab Tuhfah Qaishariyah
hal16.

Itulah sebabnya Ahmadiyah disayang dan dipelihara Inggris hingga hari
ini. Itu pula yang menjadi sebab Belanda tertarik menghadirkan
Ahmadiyah di Indonesia pada 1925. Para pelajar Jawa dan Sumatra di
India yang disebut-sebut Shamsir Ali sebagai pembawa Ahmadiyah ke
Indonesia hanya kamuflase. Intinya mereka antek Belanda.

Dalam sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, Inggris, Portugis,
dan Jepang di Indonesia tidak ada seorang Ahmadiyah pun yang
terlibat. Ada pun nama seorang Ahmadiyah yang disebut-sebut Shamsir
Ali sebagai anggota Panitia Pemulihan Pemerintahan RI dan mendapat
Bintang Jasa Kehormatan dari Pemerintah RI masih harus diteliti dan
diperiksa kebenarannya.

Kalaupun benar, itu tidak berarti menjadi bukti kebenaran Ahmadiyah.
Banyak antek penjajah saat menjelang kemerdekaan RI balik badan
secara tiba-tiba untuk mendukung Pemerintah RI. Mereka menyalip di
tikungan dan menjadi pahlawan kesiangan. Mereka pengkhianat yang
mencari selamat dan manfaat.

Keempat, soal legalitas Ahmadiyah di Indonesia. Ahmadiyah pernah
dilegalkan berdasarkan SK Menteri Kehakiman RI No JA / 23 / 13
tertanggal 13 Maret 1953 yang kemudian dimuat dalam Tambahan Berita
Negara RI No 26 tanggal 31 Maret 1953. Tapi, patut diperhatikan, SK
itu kadaluwarsa dan secara hukum tidak berlaku dengan adanya Perpres
No 1 Tahun 1965 tentang Penodaan Agama dan KUHP Pasal 156a tentang
Penistaan Agama.

Karenanya, legitimasi Ahmadiyah terus dikoreksi secara berturut-turut
melalui berbagai SK yang melarang Ahmadiyah di berbagai daerah,
antara lain SK Kejari Subang, Jabar, Tahun 1976, SK Kejati Sulsel
Tahun 1977, SK Kejari Lombok Timur Tahun 1983, SE Dirjen Bimas Islam,
Depag, Tahun 1984, SK Kejari Sidenreng, Sulsel, Tahun 1986, SK Kejari
Kerinci, Jambi, Tahun 1989, SK Kejari Tarakan, Kaltim, Tahun 1989, SK
Kejari Meulaboh, Aceh Barat, Tahun 1990, SK Kejati Sumut Tahun 1994,
SKB Muspida Kuningan, Jabar, Tahun 2003, SKB Muspida Bogor, Jabar,
Tahun 2005, Rekomendasi Bakorpakem 18 Januari 2005 tanggal 16 April
2008.

Kelima, soal prestasi dunia Ahmadiyah. Shamsir begitu bangga dengan
banyaknya cabang Ahmadiyah di dunia, pembangunan tempat ibadah,
sekolah, stasiun televisi, dan sebagainya. Lalu, dia menjadikan semua
itu sebagai bukti kebenaran Ahmadiyah.

Apakah keberhasilan Yahudi dan Nashrani di dunia berarti mereka benar
dan lurus? Sekali-kali tidak. Islam sangat menghargai kebebasan
beragama, tapi Islam tidak pernah menolerir penodaan agama. Islam
mengharamkan pemaksaan umat agama lain untuk masuk ke dalam agama
Islam, bahkan mengharamkan segala bentuk penghinaan dan gangguan
terhadap umat agama lain.

Agama lain, seperti Kristen , Budha, dan Hindu memiliki agama dan
konsep ajaran sendiri sehingga mesti dihargai dan dihormati serta
tidak boleh diganggu selama mereka tidak mengganggu Islam. Sedang
Ahmadiyah mengatasnamakan Islam, tapi menyelewengkan ajaran Islam
sehingga mereka sudah menyerang, mengganggu, dan merusak Islam.
Itulah penodaan agama. Karenanya, mereka mesti dilawan dan
dilenyapkan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam.

Ikhtisar:
- Ada banyak fakta yang membuat umat harus waspada terhadap ajaran
ini.
- Siapa saja yang sudah keluar dari ajaran Alquran dan Sunah jelas
menyimpang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar